Good Girl Gone Bad… or Better?
Pergantian tahun dari 2008 ke 2009, pergantian semester dari semester 1 ke semester 2, perubahan mood dan afek dari senang ke sedih dan sebaliknya, perubahan kegiatan dari sibuk ke leyeh-leyeh,, dan berbagai perubahan sederhana lainnya ternyata membawa gue untuk berpikir lebih dalam. Tentang apa saja. Berusaha melihat dari segala sisi yang mungkin. Sulit dan terkadang menyakitkan. Sebaliknya, ada sisi-sisi yang menyenangkan.
Terlalu lama bersantai di rumah nyatanya bukan selalu menyenangkan. I had a big fight with my sister. Another with my mom. Bukan ingin berdebat dan menangis,, tapi entahlah kejadian itu terjadi begitu saja seperti ada alurnya. Gue masih berharap ada pemahaman yang mendalam dan introspeksi dari masing-masing pihak, dan mungkin menyadari “that we have issues to solve here..” Sebagai seorang sarjana psikologi, gue belum mampu memberikan solusi atas permasalahan yang gue hadapi ini. Yah, at least everything seems okay right now,, belum tahu nantinya peristiwa yang sama akan terulang atau tidak bila ada pemicunya. Well, let’s see.
“Bukan selalu” artinya sebagian besar lainnya bercerita sebaliknya. Dengan berada di rumah, gue bisa mendekatkan diri dengan papa mama,, and i cherish those beautiful times. Mungkin bagi orang-orang lain seumuran gue sekarang ini (23), adalah suatu hal yang aneh masih sangat dekat secara fisik dan emosional dengan kedua orangtua. Bisa dikatakan gue sangat menikmati kebersamaan gue dengan papa mama, sehingga mungkin mekanisme pertahanan yang gue lakukan atas kebersamaan itu adalah fiksasi. Gue cenderung tidak mau merubah diri gue ke tahap yang lebih “dewasa” lagi,, as you may assume. Di balik semua itu, gue membuat rasionalisasi yang mungkin sudah menggumpal dalam diri gue,, bahwa gue mau memberikan waktu, tenaga, dan pikiran gue lebih banyak untuk keluarga dibandingkan dengan teman, kuliah, pekerjaan, atau apapun. I do it because i love them,, no matter how big and often our fights.. Sebesar apapun kesalahan kita, kita pasti bisa balik lagi ke keluarga kita sendiri. Saat kita kesusahan, yang paling bisa membantu kita adalah keluarga kita sendiri. Dan tidak ada pihak yang lebih mengerti kita daripada keluarga kita sendiri. I can assure you that. My favourite activities with my family: salon/spa-days with my mom, browsing gadgets with my dad, and overnight chitchats with my sis.
Bahwa gue masih egois dan manja, that is so true. Setelah dipikir-pikir, mungkin sisi buruk dari diri gue yang memicu kesalahpahaman dan menjadi biang pertengkaran ya itu tadi,, sifat-sifat egois dan manja. This also happens to me and my boyfriend. Huaa,, pacarku baik sekali, like, he would do anything to make me happy. Tapi kadang si manja ini bertingkah terlalu “bee-yatch!”, dan kemarin sempat membuat hubungan kami goyah. I did all the mistakes. Maav ya pacar,, i’m so trying to be a better person and make this relationship works. Mari kita rencanakan kencan-kencan yang menyenangkan berikutnyaa =3 although every dates means so special for me. Oh iya, selamat dua-puluh-sembilan bulanan ya paparicici!!
The end of this post, gue menyimpulkan bahwa perubahan sekecil apapun akan membuat kita jadi tidak nyaman, disadari atau tidak. Tapi kadang perubahan itu perlu. Dan NAMPAKNYA gue harus merubah beberapa sifat dan sikap gue dalam memandang sesuatu hal. Ke arah yang lebih dewasa,, just like my boyfriend told me. And so, wish me luck!!
